Musim Gugur di Jepang (Lagi!) Day 3 : Takayama & Shirakawa Go

Lanjut lagi yaa.

Destinasi ini berbeda dengan tahun sebelumnya, kalau tahun lalu saya jadwalkan ke Hiroshima, kali ini saya ingin sekali berkunjung ke Shirakawa Go, sebuah desa tradisional yang dijaga kelestariannya dan menjadi salah satu situs kebudayaan yang disahkan oleh UNESCO. Yang khas disini adalah rumah adat Shirakawa Go, yang bernama Gassho. Rumah khas Jepang yang beratapkan jerami berwarna kehitaman. Melihat rumah adat khas Jepang ini adalah salah satu bucketlist saya, cuma pada waktu memasukkan tujuan wisata ini ke dalam bucketlist saya, saya membayangkan sebuah perkampungan tradisional yang ditutupi dengan salju-salju yang menutupi hampir semua wilayahnya. Grrrrr,, kebayang dong dinginnya gimana. Tapi ternyata kesampaiannya pas pergi musim semi ya sudah dijalanani saja.. hhehehe.

Selanjutnya, gimana caranya ke kampung ini? Saya sudah cari-cari informasi nih, lokasinya di tengah-tengah agak minggir dikit antara Tokyo dan Nara (Nara, Kyoto dan Osaka lokasinya berdekatan). Tadinya sempat mau diatur ke Tateyama setelah sampai di Tokyo, tapi setelah dicari tau dan baca-baca blog orang, lebih enak dari Nara, jadi ibaratnya sekali jalan gak bolak-bolik. Pencarian pun dilanjutkan. Ternyata juga kalau mau menginap di rumah adat Gassho itu bisa banget tapi biayanya lumayan mahal.. Phewwww,, gak jadilah.. Hasil kepo-in blog orang pun bilang mending menginap di Takayama (inget ya! bukan Tateyama, itu mah kalau mau ngeliat salju abadi). Kota terdekat dari Shirakawa. 

Akhirnya saya dan rombongan pun menginap di kota ini, ternyata Tatayama itu kota kecil yang sangat menyenangkan. Jalan-jalannya kecil khas Jepang, namun tertata rapi bahkan terlalu rapi.. pake konblok dong. Berhubung saya dan rombongan pasukan berani bangun pagi. Jadilah saya mengambil kereta pagi jam 06.15 WIB sodara-sodara, biar sampai di Takayama pukul 10.55 tujuannya biar bisa ikut tur ke Shirakawa Go yang pukul 2siang. Begitu sampai di stasiun, kami langsung early check in di hotel, saya menginap di Country Hotel Takayama, dimana lokasinya cuma sejengkal dari stasiun, yup, benar-benar sejengkal, tidak sampai 20 langkah sudah sampai.. (semoga gak salah hitung ya!). Dihotel itu, tante saya berhasil menegokan pihak hotel buat minjemin ruang istirahat mereka supaya bisa dipake sebentar sama kita buat makan siang dan sholat. Bayangin!! Tante saya yang bahasa inggrisnya pas-pasan bisa nego ruangan! Luar biasaaa.. Padahal juga resepsionisnya gak bisa juga bahasa inggris. Saya curiga, mereka ngeh kan kalau ruangannya kita pakai.. heheh...

Kota mungil yang menyenangkan.

Toilet umumnya apik tenan.

Toko oleh2 depan stasiun.

Selesai makan kita masih punya waktu 2 jam sebelum ikutan tour. Oia, saya jelaskan sedikit tournya ya. Hasil review bilang sebaiknya kita pakai tur saja ke Shirakawa jika tidak bermaksud menginap disana. Karena bus sangat terbatas disana. Ada banyak tur yang mengakomodir wisatawan dari Takayama ke Shirakawa. Saya pun menjatuhkan pilihan ke J-Hop Tour, karena tour agent ini satu perusahaan dengan jaringan hostel murah J-Hoppers di wilayah Jepang. Selain itu, hasil tanya sana sini via forum di Trip Advisor mengatakan J-Hop Tour salah satu yang direkomendasikan. Jadi, saya pede untuk pakai jasa tour ini. Sebagai referensi ini tautan linknya ada disini ya. Untuk waktunya sendiri ada 2 kali jadwal ke Shirakawa dari Takayama, jam 08.10 dan 13.20 .. Ihh, kenapa sih jamnya gak ada yang pas gitu yaa.. Jam 8 teng gitu, atau jam 1 teng, tapi jangan khawatir walaupun ini bus namun ketepatan waktunya pun akurat. Biayanya per orang sekitar Y4.400 cukup mahal memang, tapi worth it lah daripada repot-repot dijalan karena jarang sekali bus yang ke Shirakawa.

Oke, saya dan rombongan pun selesai makan menghabiskan waktu dengan jalan-jalan sedikit menyusuri kota Takayama. Ada beberapa objek wisata disini, salah satu yang terkenal adalah kota tua (old town) Saya baru explore kota tua setelah kembali dari Shirakawa karena takut ketinggalan bus. Karena kota ini kecil, semuanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki, paling jauh 15menit dari arah stasiun.  Jam 1 teng, saya dan rombongan udah duduk manis di meeting point, posisinya ada disebelah kanan setelah keluar dari stasiun. Jam 1pm bus datang, pemandu wisata pegang daftar peserta tour dan segera menarik biaya tur, karena saya memilih pilihan bayar ditempat jadilah saya setor uang tur ke pemandunya. Jama 1.20 bus jalan menuju Takayama.

Sepanjang perjalanan tour leader aktif menceritakan tentang Takayama dan Shirakawa, ternyata beliau orang asli Takayama, namanya Matsumoto. Sering denger ya namanya.. hhehehehe.. Orangnya sangat menyenangkan dan sangat mengenal karakteristik negara2 lain, termasuk kebiasaan orang Indonesia yang suka telat balik ke tur kalau ada agenda belanja. Duhh,, malunyaa.. hehehehe..

Ada beberapa spot tempat yang akan dikunjungin salah satunya viewpoint untuk melihat dari jauh desa Shirakawa. Ini best spot untuk mengambil kamera. Saya membayangkan kalau kesini pada saat musim salju. Pemandangan yang kontras antara salju yang putih dan menutupi rumah Gassho yang berwarna hitam. Oke, akhirnya setelah hampir 1 jam (yang sangat tidak terasa dan tour leadernya ngoceh terus) kita sampai ke view point. Alhamdulillah kesampaian juga melihat pemandangan yang selama ini cuma bisa dilihat di media sosial, televisi atau sekesar mendengar keindahan alamnya. Cuaca pada bulan Oktober sangat sejuk, impian anak tropis untuk merasakan udara dingin tanpa jaket.. heheehhehe.. Oia,, kita cuma dikasih waktu 30 menit disini, termasuk belanja.. O em ji!!

Gassho house from top

Saya Mama dan Rian

Perfect view

Stay focus!

Well, kalau cuma dikasih waktu 30 menit untuk foto termasuk belanja udah pasti dong rombongan Indonesia telat, saya gak telat sih, tapi tante2 saya yang telat.. hehee.. telat 5 menit doang..
Perjalanan pun dilanjutkan ke desa Shirakawa yang melegenda itu. Jarak dari view point ke Shirakawa cukup singkat, rasanya hanya 15menit..

Jembatan memasuki desa Shirakawa

Salah satu penjual oleh-oleh



Suasana di dalam desa Shirakawa

Mama & Rian

Penjaga Gassho

Didalam Gassho House



Akhirnya waktu jugalah yang memisahkan saya dengan desa Shirakawa, pemandangan yang luar biasa, Perjalanan pun dilanjutkan, kami kembali ke Takayama. Oia, di Shirakawa itu pendidikan terakhir yang  ada di desa itu hingga sekolah dasar saja, selanjutnya pendidikan harus dilanjutkan di desa terdekat yaitu Takayama. Pantesan pada saat kembali dari Shirakawa banyak anak sekolah di kereta. Setelah menembuh perjalanan selama 1 jam kembali ke Takayama, kirain bakalan dengerin tour leadernya ngoceh lagi, ternyata doi capek juga. heheh, kami pun tiba ke Takayama. Rombongan rempong lainnya langsung kembali ke hotel untuk beristirahat. Tapi saya, mama dan adik saya memilih untuk berkeliling kota Takayama dengan berjalan kaki. Seperti yang saya bilang sebelumnya jaraknya hanya maksimal 15min dari stasiun. Rasanya sayang jika harus langsung kembali ke hotel mengingat kami hanya menginap selama 1 malam disini dan besok pagi harus berangkat lagi ke Hakodate.

Berikut penampakan kota mungil nan apik Takayama. Saat itu waktu menunjukkan pukul 5pm. Kami pun berjalan kaki mengeliliingi kota tersebut. Tapi saat waktu menunjuukan 6pm kok kotanya sepi. Hanya segelintir orang yang berkeliaran,, agak horor juga sih.. kok serem berasa di area shooting film serial the walking dead. Makin malam makin dingin cuyy...



Pusat perbelanjaan 

Gak adad orang kan?!

Old Town






Jam8  toko-toko udah pada tutup

Itu pengalaman saya berkunjung ke Takayama dan Shirakawa Go. 2 kota yang membekas di hati karena masih tidak percaya bisa melihat dengan mata sendiri..

Semoga teman-teman yang membaca blog saya bisa mengunjungi 2 kota ini ya.

Hari ke 3 saya di Jepang berakhir di kota Takayama, besok perjalanan akan dilanjutkan lagi ke Hakodate. Sebuah kota pelabuhan yang struktur kotanya, naik turun bisa melihat laut, hampir sama dengan kota San Fransisco. Mayan yaa, bisa ngaku2 ke SF padahal ke Jepang.. hehehehe.. Konon, kota ini adalah kota pertama membuka diri ke dunia luar pasca Jepang menutup diri dari luar pada jaman kaisar meiji, sering disebut restorasi Meiji. Oleh karenanya, bangunan di Hakodate ini cenderung memiliki desing kebarat-baratan.

Yuk,,, monggo bersabar ya, semoga saya masih semangat nulis..


Comments

Popular posts from this blog

Money Changer Rate Murah!!

[Mudik] Nyebrang ke Sumatera lewat Tanjung Priok, anti antri dan cepat..

Japan Trip Day 5 : Mt Tateyama - Tateyama Alphine Route